Tasikmalaya, (SUAKA) – Pemilihan Umum Raya Mahasiswa Universitas Perjuangan Tasikmalaya (PEMIRA UNPER) 2025 tinggal menghitung hari. Para Paslon sudah mulai melakukan kampanye mereka dan debat pun juga di gelar pada Sabtu, 8 November 2025 di Auditorium Universitas Perjuangan. Senin, (10/11/2025).

Rencananya, pemungutan suara akan dilaksanakan pada hari Senin, 24 November 2025 yang bertempat di Universitas Perjuangan Tasikmalaya.

Namun, ada beberapa hal yang sangat di sayangkan. Dari mulai transparansi informasi dari KPUM hingga teknis pelaksanaan yang tidak jelas, dimana tidak semua mahasiswa mendapatkan informasi yang jelas dari pihak penyelenggara terkait sistematika berlangsungnya Pemira ini.

Sementara itu, pihak media pun memiliki akses yang terbatas dalam mendapatkan informasi yang jelas terkait Pemira. Bahkan debat paslon yang seharusnya jadi konsumsi publik, malah dibatasi dan tidak semua mahasiswa diperbolehkan ikut serta dan menonton secara langsung jalannya acara.

“Memang untuk debat ini kita batasi karena ada beberapa hal yang miskom dari pihak KPU. Kita juga tidak bisa menghandle semuanya karena keterbatasan panitia KPUM sendiri”, ujar Randi selaku ketua KPUM.

Terdapat 2 Paslon yang berkompetisi di Pemira 2025. Paslon 01 dengan Capres Abdan dari Prodi Manajemen dan Adit sebagai Cawapres dari Prodi Teknik Sipil. Sementara itu, Paslon 02 dengan Capres Fajar dari Teknik Informatika dan Fikri sebagai Cawapres dari Prodi PGSD.

“Tentunya kami mencalonkan dengan tujuan membenahi dari dalam bagaimana sistematika Ormawa yang masih banyak kekurangan. Ketika kita tidak masuk kedalamnya akan susah untuk merubah ataupun memperbaiki Ormawa agar lebih baik lagi bagi mahasiswa dan juga Universitas tersendiri”, ujar Paslon 01 Abdan & Adit.

Sementara itu, Paslon 02 menyampaikan tujuan utamanya mencalonkan diri. Mereka mencalonkan karena ada keinginan dan dorongan dari Fakultas masing-masing. “Kami juga memiliki tekad yang bulat dan juga harapan yang begitu bersinar ketika nantinya terpilih”, ujar Paslon 02 Fajar & Fikri.

Meskipun Pemira menjadi momen penting, tidak dapat dipungkiri bahwa sistematika dari penyelenggaraan Pemira ini bisa dibilang tidak jelas. Tidak ada transparansi teknis serta informasi dan hanya mumunculkan ilusi demokartis semata. Karena itu, diharapkan seluruh mahasiswa dapat melek terhadap hal-hal yang subtansial untuk masa depan kampus. (Tim Media Suaka)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *