Penulis: Muhamad Khalif
Editor: Tim Persma Suaka
Tasikmalaya, (SUAKA) – Tasikmalaya Social Movement (TSM) menggelar kegiatan penggalangan donasi bagi korban bencana di Sumatra melalui panggung seni dan musik yang melibatkan puluhan komunitas di Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini menjadi ruang kolektif bagi pemuda dan masyarakat untuk menyalurkan kepedulian kemanusiaan secara bersama. Sabtu, (20/12/2025).
Kegiatan ini dihadirkan sebagai bentuk solidaritas lintas komunitas dengan mengusung semangat kebersamaan dalam keberagaman. Berbagai penampilan seni seperti musik lintas genre, puisi, teatrikal, hingga tarian disajikan sebagai simbol bahwa perbedaan minat dan latar belakang tidak menghalangi persatuan dalam isu kemanusiaan.
Ketua pelaksana kegiatan, Acep Azhar Jatnika, menjelaskan bahwa penggalangan donasi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas kondisi saudara-saudara di Sumatra yang terdampak bencana. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif, khususnya di kalangan pemuda Tasikmalaya.

“Tujuan kegiatan ini agar pemuda tidak hanya bergerak secara individu, tetapi memiliki kekuatan kolektif. Kita ingin menunjukkan bahwa warga bantu warga itu nyata, dan solidaritas bisa menjadi energi agar saudara-saudara kita di Sumatra tetap memiliki harapan,” ujarnya.
Acep menambahkan, konsep panggung seni dipilih karena dinilai mampu menjembatani perbedaan sekaligus memperkuat pesan persatuan. Melalui seni dan musik, nilai kemanusiaan dapat disampaikan secara lebih luas dan diterima oleh berbagai kalangan.
“Meskipun selera kita berbeda-beda, baik dalam musik maupun seni lainnya, dalam melihat persoalan kemanusiaan kita berdiri di titik yang sama. Itu nilai utama yang ingin disampaikan dari kegiatan ini,” jelasnya.
Kegiatan penggalangan donasi ini melibatkan banyak komunitas dan organisasi, di antaranya komunitas seni dan musik, komunitas olahraga, hingga organisasi sosial dan filantropi.
Hingga 19 Desember 2025, total donasi yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari Rp5,3 juta. Donasi tersebut akan disalurkan melalui relawan GESIT yang telah memiliki posko di beberapa wilayah terdampak bencana.
“Distribusi donasi kami percayakan kepada relawan GESIT karena mereka sudah bekerja langsung di lapangan dan memiliki posko di tiga provinsi terdampak, termasuk Aceh dan wilayah lain di Pulau Sumatra,” kata Acep.
Lebih lanjut, Acep menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi refleksi atas kondisi sosial dan ekologis yang semakin memprihatinkan. Ia menilai bahwa bencana yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia dan lemahnya tanggung jawab negara.
“Bencana ini bukan sekadar musibah alam, tetapi juga dampak dari ketimpangan ekologis dan kerakusan manusia. Negara seharusnya lebih hadir dan bertanggung jawab, karena Sumatra adalah bagian dari Indonesia dan korban memiliki hak yang sama,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, TSM berharap semangat gotong royong dan solidaritas terus tumbuh di tengah masyarakat. Meski belum memiliki agenda lanjutan yang pasti, TSM menargetkan gerakan ini dapat berkembang menjadi aksi sosial yang lebih besar dan berkelanjutan.
“Kami berharap ke depan bisa membuat gerakan yang lebih besar, tetap berangkat dari isu sosial dan kemanusiaan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya,” pungkasnya.
Kegiatan ini menegaskan bahwa solidaritas dan gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat, khususnya pemuda, dalam merespons persoalan kemanusiaan melalui aksi nyata dan gerakan bersama. (Tim Media Suaka)***