Penulis: Tim Persma Suaka
Editor: Tim Persma Suaka
Dalam kacamata politik modern, komunikasi bukan sekadar instrumen formalitas dalam dunia politik, ia adalah esensi dari politik itu sendiri. Narasi yang jernih mencerminkan intelektualitas di balik meja kekuasaan. Sayangnya, memasuki tahun kedua roda pemerintahan berjalan, gaya komunikasi publik yang dipresentasikan oleh Prabowo Subianto beserta jajarannya kerap kali menampakkan ambiguitas, tumpang tindih, dan membingungkan publik.
Komunikasi politik yang seharusnya menjadi jembatan transparansi dan akuntabilitas justru bermutasi menjadi bola liar yang mengaburkan substansi kinerja pemerintah. Menurut pemikir sosiolog Jürgen Habermas, komunikasi politik adalah jembatan rasionalitas yang mengikat seorang pemimpin dengan warga negaranya. Habermas menyaratkan adanya tindakan komunikatif yang jernih untuk mencapai konsensus sosial yang sehat.
Gaya komunikasi prabowo telah menjadi bola liar bagi pemerintahannya sendiri. Sejak beberapa bulan terakhir, alih-alih meredakan kekhawatiran, beberapa kali pernyataan Prabowo dan pejabat negara lainnya cenderung menjadi kontroversi. Pernyataan-pernyataan yang kontradiktif, ambigu, dan terkesan tidak sensitif ini menunjukkan adanya krisis dalam pengelolaan pesan elite politik, serta mempertanyakan seberapa jauh kecermatan berbahasa diutamakan dalam lingkaran kekuasaan.
Fenomena gaya komunikasi Prabowo mendapat perhatian serius dari publik dan pengamat akademis. Dalam kacamata ilmu komunikasi politik, gaya komunikasi Prabowo sering di cap “Jelek”. Ini menunjukkan bahwa adanya kegagalan dalam memenuhi standar komunikasi pemimpin formal yang serba presisi, metodis dan terstruktur.
Saat ini, kita sedang menyaksikan sebuah fenomena drama politik yang penuh gonjang-ganjing hebat. Prabowo memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berpidato secara spontan tanpa panduan teks yang solid. Pendekatan yang selaras dengan tipe kepemimpinan populis-pragmatis dimana pendekatan asertif-populis ini sering menjadi kunci jitu beliau berpidato, yang seringkali berujung pada nada bicara yang meledak-ledak, berapi-api, dan sayangnya minim filter diplomasi.
Gaya komunikasi yang penuh muatan emosi ini beresiko blunder yang luar biasa besar, terutama dalam fase krusial krisis bernegara. Lontaran kata-kata yang tidak terukur ini berpotensi menjadi bola liar yang memperlebar perspektif buruk publik terhadap pemerintah dimana seharusnya pada saat ini negara sedang membutuhkan stabilitas.
Kilas balik citra publik Prabowo mengalami naik turun dari masa ke masa. Pada satu periode pemilu, ia tampil mempresentasikan figur militeristik yang kaku dan menggelegar. Pada periode berikutnya, ia berubah menjadi sosok santai nan gemoy yang gemar berjoget di hadapan massa.
Dalam dinamika politik global, kepemimpinan yang berumur panjang dan mewariskan permata indah selalu menuntut keseimbangan sempurna antara ketegasan bertindak dan kecermatan bertutur. Kelemahan struktural dalam merangkai pesan kepada publik yang melekat pada akhirnya akan terus menjadi bola liar dalam merekam jejak sejarah yang paripurna.
Sumber Foto:
(Tangkapan Layar Youtube/Partai Solidaritas Indonesia)
Sumber:
Akbar, N. A. (2025, April 9). Prabowo Soal Jeleknya Komunikasi Pemerintah: Saya Yang Salah. Retrieved from Kompas: https://nasional.kompas.com/read/2025/04/09/17044391/prabowo-soal-jeleknya-komunikasi-pemerintah-saya-yang-salah
Grehenson, G. (2025, September 29). Sering Bikin Blunder, Pemerintah Diminta Perbaiki Komunikasi Publik. Retrieved from Universitas Gadjah Mada: https://ugm.ac.id/id/berita/sering-bikin-blunder-pemerintah-diminta-perbaiki-komunikasi-publik/
Tempo. (2025, April 13). Komunikasi Buruk Pemerintahan Prabowo. Retrieved from Tempo: https://www.tempo.co/kolom/komunikasi-buruk-prabowo-1230601 neohistoria.id. (2026, Juni 27). Kenapa Gaya Komunikasi Probowo Sangat Jelek. Retrieved from Instagram: https://www.instagram.com/p/DaFsOUKkhRI/?igsh=MTBkMzk0ZzZmbTYwcQ%3D%3D&img_index=1