Penulis : Muhammad Khalif
Editor : Tim Persma Suaka
Peristiwa Mei 1998 menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia. Banyak orang mengenalnya sebagai awal lahirnya era Reformasi dan berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto setelah memimpin selama lebih dari 30 tahun. Namun, di balik perubahan besar tersebut, ada kisah kelam yang meninggalkan luka mendalam bagi banyak masyarakat Indonesia.
Pada saat itu, Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat berat. Harga kebutuhan pokok naik drastis, banyak perusahaan bangkrut, dan banyak masyarakat kehilangan pekerjaan. Kondisi ini membuat kehidupan rakyat semakin sulit. Di berbagai kota, mahasiswa mulai turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan perubahan dan meminta pemerintah memperbaiki keadaan.
Situasi semakin memanas setelah terjadinya Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia setelah tertembak saat demonstrasi berlangsung. Kejadian tersebut memicu kemarahan masyarakat dan menjadi awal dari kerusuhan besar yang terjadi pada 13 hingga 15 Mei 1998.
Kerusuhan itu menyebabkan banyak gedung, toko, dan kendaraan dibakar maupun dirusak. Banyak pusat perbelanjaan dijarah, dan suasana di beberapa kota, terutama Jakarta, menjadi sangat mencekam. Dalam keadaan kacau tersebut, masyarakat etnis Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak. Banyak rumah dan toko milik mereka menjadi sasaran kerusuhan.
Tidak hanya itu, muncul juga laporan tentang kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap sejumlah perempuan Tionghoa pada masa kerusuhan berlangsung. Hingga sekarang, peristiwa ini masih menjadi bagian sejarah yang sensitif dan menyakitkan untuk dibahas. Ada pihak yang percaya bahwa tragedi tersebut benar-benar terjadi berdasarkan laporan tim pencari fakta dan organisasi HAM, tetapi ada juga yang masih mempertanyakan kebenarannya. Perbedaan pandangan ini membuat pembahasan mengenai Mei 1998 sering menimbulkan perdebatan di masyarakat.
Di tengah situasi yang tidak terkendali, tekanan terhadap pemerintah semakin besar. Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan terus menuntut perubahan. Dukungan terhadap Presiden Soeharto pun mulai berkurang. Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Peristiwa itu menjadi tanda berakhirnya masa Orde Baru dan dimulainya era Reformasi di Indonesia.
Meski Reformasi membawa perubahan dalam sistem politik dan demokrasi Indonesia, luka dari peristiwa Mei 1998 belum sepenuhnya hilang. Banyak korban dan keluarga korban masih berharap adanya keadilan dan pengakuan atas apa yang mereka alami. Hingga kini, tragedi tersebut masih dikenang sebagai salah satu masa paling kelam dalam sejarah bangsa Indonesia.
Peristiwa Mei 1998 mengajarkan bahwa perubahan besar dalam sebuah negara tidak hanya tentang pergantian pemimpin, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menghadapi trauma, menjaga kemanusiaan, dan belajar agar tragedi serupa tidak terjadi lagi di masa depan.
Sumber:
Himawan, E. M. (2025, Juli 7). Pemerkosaan massal Mei 1998: Narasi sejarah yang terbelah antara Tionghoa dan non‑Tionghoa. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/pemerkosaan-massal-mei-1998-narasi-sejarah-yang-terbelah-antara-tionghoa-dan-non-tionghoa-260321
Muhid, H. K. (2025, Mei 14). Reformasi 1998: Kerusuhan Mei 1998 dan Runtuhnya Kekuasaan Soeharto. Retrieved from Tempo: https://www.tempo.co/politik/reformasi-1998-kerusuhan-mei-1998-dan-runtuhnya-kekuasaan-soeharto-1434032
Parandaru, I. (2026, Mei 21). Sejarah Peristiwa Mei 1998: Titik Nol Reformasi Indonesia. Retrieved from Kompaspedia: https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/sejarah-peristiwa-mei-1998-titik-nol-reformasi-indonesia
Tempo.co. (2021, Mei 14). Kerusuhan Mei 1998, Sejarah Kelam Pelanggaran HAM di Indonesia. Retrieved from Tempo: https://www.tempo.co/hukum/kerusuhan-mei-1998-sejarah-kelam-pelanggaran-ham-di-indonesia-513325