Penulis: PERSMA SUAKA
Naik turun perjalanan demokrasi Indonesia saat ini turut dipengaruhi banyak hal, salah satu diskursus yang menarik adalah kepemimpinan negara yang dipimpin oleh seorang figur populis. Dengan dipimpinnya Indonesia oleh seorang pemimpin populis, seringkali mengundang perdebatan, khususnya berkaitan dengan dampaknya terhadap demokrasi.
Populisme adalah salah satu aliran politik yang mengklaim mewakili kepentingan dan suara masyarakat kelas bawah, pemimpin populis sering kali menggambarkan diri mereka berlawanan dengan kelompok elit yang dianggap korup atau tidak peduli.
Gaya kepemimpinan ini sangat bergantung pada retorika emosional dan janji-janji instan seperti kebijakan yang menyenangkan masyarakat kelas bawah. Masyarakat kelas bawah disini tidak hanya diartikan dalam hal ekonomi tapi juga dalam banyak hal yang lainnya entah itu pendidikan, pola pikir atupun mental.
Dengan berfokusnya pemimpin populis terhadap masyarakat kelas bawah, maka dari sikap, gaya, hingga yang paling sering kita dengar pidato itu bernuansa untuk menyenangkan masyarakat kelas bawah dan menggunakan pendekatan emosional.
Pemimpin populis akan melahirkan kebijakan atau program yang juga populis, yakni “menyenangkan masyarakat kelas bawah”. Sayangnya program atau kebijakan yang dilahirkan oleh seorang pemimpin populis itu sering kali kebermanfaatannya jangka pendek, sebaliknya efek buruknya akan menunggu atau menanti dalam jangka panjang.
Sekilas, pandangan terhadap populisme sendiri tampak hadir seperti penyelamat bagi masyarakat kelas bawah. Akan tetapi, populisme sendiri memiliki dampak buruk terhadap demokrasi jangka panjang.
Dalam konteks di Indonesia, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sering dianalisis melalui kacamata populisme kanan atau populisme pragmatis (anti-asing, anti-korupsi dan kesejahteraan rakyat miskin), yang dicirikan oleh retorika nasionalis yang kuat, pembelaan terhadap kepentingan rakyat di bawah bayang-bayang elit, dan kebijakan populis.
Dengan melihat cara beliau berpidato yang sering dianggap oleh sebagian masyarakat itu adalah blunder, akan tetapi dalam prinsip populisme hal itu memang sengaja untuk dibuat. Masyarakat kini bertanya akan seperti apa demokrasi Indonesia? Upaya untuk mengawal proses demokrasi dilakukan masyarakat sipil, mahasiswa, pegiat demokrasi, dan akademisi.
Namun, belum ada respons signifikan terhadap aspirasi publik ini. Masyarakat pro-demokrasi seolah berjuang sendirian, tetapi narasi mereka tetap konsisten, menginginkan pemimpin yang teguh menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebebasan berekspresi, dan perlindungan HAM.
Sumber:
Fridolin Edwin Moke, F. E., & Simarmata, S. (2025). Analisis Gaya Komunikasi Populis Prabowo Subianto dalam Kampanye Pemilihan Presiden 2024. Jurnal InterAct, Vol. 14 (1), 47-69.
Hasfi, N. (2024, April 5). Populisme dan Masa Depan Demokrasi. Retrieved from Kompas: https://www.kompas.id/artikel/populisme-dan-masa-depan-demokrasi
Pambudhi, H. D. (n.d.). Ketika Indonesia Dipimpin Populis. Retrieved from Pinter Politik: https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/ketika-indonesia-dipimpin-populis/amp/