TASIKMALAYA (SUAKA) — Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gradasi (Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi) resmi digulirkan di wilayah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Mengusung misi besar pemberdayaan masyarakat, program ini tidak hanya menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga hadir membawa solusi konkret terhadap dua isu krusial daerah: pengelolaan sampah dan penguatan ekonomi masyarakat. (07/22/2026)
Ketua LLDIKTI Wilayah 4, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., menegaskan bahwa KKN Tematik tahun ini melibatkan lebih dari 1.000 mahasiswa dari 8 perguruan tinggi. Salah satu target utamanya adalah mewujudkan program “Sampah Tuntas”.

“Pemerintah saat ini melarang adanya TPA baru maupun penggunaan insinerator. Oleh karena itu, melalui KKN Tematik ini, masyarakat didorong untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga dan kampus agar tidak dibuang keluar,” ujar Dr. Lukman.
Selain persoalan lingkungan, fokus kedua difokuskan pada penguatan circular economy. Mahasiswa dibekali untuk memberikan nilai tambah pada produk-produk UMKM lokal—mulai dari pembenahan kemasan (repackaging) hingga strategi pemasaran digital di media sosial.
Meski pembekalan teknis telah diberikan, Dr. Lukman mengingatkan bahwa tantangan terbesar mahasiswa ada pada pendekatan komunikasi intergenerasi. “Tantangannya bukan pada teknologi, melainkan bagaimana berkomunikasi dengan santun kepada orang tua dan masyarakat setempat. Prinsipnya, edukasi tanpa mengajari ikan berenang,” tegasnya.
Sebagai salah satu kampus pelaksana, Universitas Perjuangan (UNPER) menerjunkan ratusan mahasiswa yang tersebar di berbagai skema pengabdian. Wakil Rektor 1 UNPER, Dr. Dona Setia Umbara, M.P., merincikan sebaran peserta KKN UNPER tahun 2026 ini mencakup 903 mahasiswa yang mengikuti KKN PPM dan ditempatkan di 68 desa pada 9 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. Selain skema PPM, terdapat 25 mahasiswa yang berfokus pada KKN Tematik Kewirausahaan yang diterjunkan di tiga mitra usaha (UMKM Bordir, UMKM Tarabag, dan Kelompok Ternak Cibu Nigelis) untuk penguatan produk dan pemberdayaan ekonomi, serta 22 mahasiswa lainnya yang mengikuti KKN Konversi Pengabdian.

Dr. Dona menekankan pentingnya kontribusi nyata mahasiswa melalui inovasi sederhana yang berdampak langsung pada pendapatan warga. Melalui integrasi ilmu akademis dan pengabdian, mahasiswa dituntut untuk hadir membawa solusi bagi potensi maupun permasalahan sosial ekonomi lokal.
“Contohnya gula aren. Jika hanya dijual polosan, perputarannya lambat. Tapi jika diaplikasikan menjadi dodol atau cemilan kemasan, nilai jual dan rotasi usahanya jauh lebih cepat. Selain dampak ekonomi, mahasiswa juga dituntut menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah serta dokumentasi video pendek (short movie),” jelas Dr. Dona.
Dari sudut pandang pendampingan, Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Desa Jaya Ratu dan Desa Jaya Putra (Kecamatan Sariwangi), Dudu Risana, M.M., menyampaikan bahwa tantangan terbesar di lapangan adalah menyatukan keberagaman latar belakang disiplin ilmu dan karakter mahasiswa.

“Kunci utama KKN adalah kedisiplinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal. Indikator keberhasilannya simpel: mampu mengubah yang tadinya tidak ada menjadi ada, dan yang kurang menjadi bertambah nilainya,” ungkap Dudu.
Di tingkat tapak, para mahasiswa menunjukkan kesiapan matang setelah melalui proses analisis kebutuhan desa selama lebih dari satu bulan.

Haykal, mahasiswa KKN di Desa Baru Mekar, Kecamatan Parungponteng, mengusung slogan unik dalam program kerjanya:
“Slogan kami adalah ‘Belajar Bareng Warga’. Jadi bukan hanya kami yang memberi pengabdian, tetapi kami juga ingin menimba ilmu praktis dari warga desa. Fokus kami di sana adalah pemberdayaan UMKM dan mitigasi bencana,” kata Haykal.
Sementara itu, Dafa, peserta KKN di Kecamatan Gunung Tanjung, menyiapkan program kerja unggulan yang langsung menyentuh digitalisasi UMKM:
“Kami akan melakukan pendampingan pengolahan sampah dan digitalisasi UMKM. Mulai dari desain kemasan, pendaftaran titik Google Maps usaha, hingga pendampingan legalitas seperti izin usaha (NIB),” tutur Dafa.
Program KKN ini diharapkan tidak hanya meninggalkan rekam jejak akademis di atas kertas, tetapi meninggalkan bekas dampak sosial-ekonomi yang nyata. Indikator keberhasilan sejati dari pengabdian ini adalah ketika lingkungan menjadi bersih, taraf ekonomi UMKM meningkat, dan kehadiran mahasiswa dirindukan oleh masyarakat desa saat masa tugas berakhir.