Konten kreator Shandy Logay viral di sosial media karena kontennya yang mengajak seorang pelajar untuk “pacaran”. Meskipun sebatas konten, aksi tersebut menuai kecaman keras dari publik karena dianggap tidak pantas bahkan dikaitkan dengan isu child grooming. Sabtu, (24/01/2026).
Konten kreator asal Tasikmalaya ini mengunggah konten bertema “tantangan pacaran sehari bersama anak sekolah.” Konten tersebut memperlihatkan ia berinteraksi dengan seorang pelajar SMA bernama Jihan. Publik menilai konten ini melampaui batas kepantasan dan menuduhnya mengarah pada praktik child grooming.
Sebuah konten hiburan mestinya memberikan nilai positif atau hanya sekadar menghibur tanpa memberikan dampak negatif bagi pihak lain. Namun, konten Shandy Logay memperlihatkan pada kita bahwa ketika seorang anak sekolah dijadikan objek “pacar sewaan” demi konten, sisi hiburan konten tersebut berubah dan mengarah pada potensi eksploitasi.
Popularitas di media sosial juga sering kali menjadi tujuan utama, bahkan lebih penting daripada etika. Kasus Shandy Logay ini menunjukkan bagaimana “views” dan “likes” bisa mendorong seseorang melanggar norma sosial.
Shandy Logay maupun konten kreator lainnya seharusnya menimbang dampak sosial sebelum membuat karya, sebab popularitas yang diperoleh dengan mengorbankan nilai moral hanya akan menghasilkan kontroversi, bukan reputasi jangka panjang.
Sebagai konten kreator, Shandy Logay punya peran besar dalam membentuk persepsi publik. Melalui unggahan permintaan maaf di akun sosial medianya, Shandy mengakui kesalahan dalam konten tersebut.
Shandy menyampaikan bahwa dirinya secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama kepada Jihan dan orang tuanya serta semua pihak yang merasa tidak nyaman, karena tindakannya telah menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Kasus ini menunjukkan bahwa media sosial bukan ruang bebas tanpa batas. Mengorbankan nilai moral demi popularitas hingga nilai hiburan konten yang mengarah pada eksploitasi menjadi pengingat bagi kreator, publik, dan lembaga pendidikan dalam memastikan konten digital tetap sehat dan tidak merugikan pihak lain.